Yok Bantu Siswi Korban Perampokan Bayar Hutang Pengobatan Rp 21 Juta

LINGGAUMETROPOLIS.COM– Malang nasib dialami DJ (14) siswi SMP di Lubuklinggau yang yang merupakan korban perampokan harus tertahan dirumah Sakit Dr Sobirin Musi Rawas di Lubuklinggau karena tak ada biaya untuk keluar.

Hal ini terungkap setelah Ketua Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen ( BPSK) Lubuklinggau, Nurusulhi Nawawi dan anggota mengunjungi korban di rumah sakit plat merah tersebut,Sabtu (06/06/2020) malam.

Nun sapaan Nurusulhi Nawawi menceritakan bahwa orang tua DJ tak ada uang untuk melunasi biaya pengobatan di rumah sakit Dr Sobirin sebesar Rp 21 juta sehingga DJ yang mengalami sembilan luka tusuk akibat perampokan tidak bisa pulang kerumah.

Korban sudah diizinkan pulang pada 4 Juni lalu, namun karena tidak ada biaya maka baru bisa pulang Sabtu 6 Juni 2020 pukul 21.45 setelah Nun menandatangi surat pernyataan sebagai penjamin pasien dengan tempo 10 hari harus melunasi biaya yang belum dibayarkan.

Nun sebelumnya berkomunikasi dengan managemen rumah sakit menyampaikan beberapa hal terkait korban, salah satunya siap menjadi penjamin untuk korbaj, dan pihak rumah sakit merespon dengan baik sehingga korban boleh pulang setelah Nun menandatangani pernyataan sebagai penjamin dan akan membayar hutang biaya pengobatan.

” Saya berbicara di depan Keluarga korban, bahwa kewajiban kita semua untuk tetap membayar Total Hutang sebesar Rp. 21.290.897, Dimana Kita akan menempuh cara, Meminta Bantuan Rekomendasi LPSK, dan atau Meminta Bantuan Bidang Rehabilitasi Sosial Anak pada Dinas Sosial Kota Lubuklinggau., dan atau Menggalang Donasi Masyarakat, dan atau tetap menjadi Hutang Wajib Lunas Penjamin kepada pihak RS. Dokter Sobirin Lubuklinggau,”terang Nun.

“DJ ini ada KIS, tapi menurut BPJS Kesehatan tidak bisa klaim karena korban kriminalitas tidak masuk klausul klaim,”ujarnya.

Diketahui, DJ (14) mengalami tindak kriminalitas yang sadis pada 26 Mei 2020, Siswi SMP Negeri Kelas VIII di bagian Timur Kota Lubuklinggau, telah mengalami Tindak Kejahatan dengan Kekerasan oleh Pria yang terhitung masih Keluarga dekatnya sendiri merampas secara paksa Handphone, Powerbank dan uang tunai, bahkan dituturkan kembali oleh Sang Ayah, jika saja Anaknya DJ tidak memiliki sedikit bekal pengetahuan Ilmu Bela Diri, bukan tidak mungkin sudah terjadi pemaksaan perbuatan cabul oleh Tersangka kepada Korban DJ.

Namun, dalam pergulatan mempertahankan beberapa benda cukup berharga, DJ mengalami 9 Tusukan Pisau milik Tersangka. Untung saja Korban selamat karena ada masyarakat setempat yang mengetahui dan segera memberikan pertolongan, dengan membawa Korban (Anak) DJ ke RS. Dokter Sobirin Lubuklinggau. Bahwa terhadap Tersangka, Reaksi cepat berhasil ditorehkan oleh Satuan Reskrim Polres Lubuklinggau yang hanya butuh waktu kurang dari 2 jam untuk meringkus Tersangka.

Diterangkan Nun, korban menjalani Operasi, maka selamatlah Korban dari maut yang dapat saja berujung kematian,dalam masa perawatan, pihak Keluarga telah menyertakan Kartu Indonesia Sehat (KIS) Atas nama (Anak) DJ kepada pihak RS. Dokter Sobirin.Lubuklinggau.

Setelah pemulihan kesehatan Pasca Operasi Besar, pada hari ke 11 (sebelas) dan atau Kamis 4 Juni 2020, Keluarga (Anak) DJ diberitahu bahwa sudah diperkenankan untuk meninggalkan RS Sobirin Lubuklinggau guna selanjutnya dilakukan Rawat Jalan.

Nah, ketika pihak Keluarga diberikan lembar demi lembar biaya perawatan Medis dengan total sekitar Rp. 21.290.897.- (Dua puluh satu juta dua ratus sembilan puluh ribu delapan ratus sembilan puluh tujuh rupiah). Akibat dari keawaman pengetahuan pihak Keluarga sulit menerima penjelasan, bahkan menjadi tanda tanya yang membingungkan untuk sekedar mencerna, Mengapa Kartu Indonesia Sehat (KIS) atas nama anaknya sebagai Korban Tindak Kekerasan tidak dapat dilakukan Klaim untuk menutupi semua pembiayaan Pengobatan plus Perawatan Medis.

Ditengah kebingungan ini, Keluarga Korban bahkan pernah mengutus salah satu Keluarga untuk menemui dan meminta bantuan Orang Tua Tersangka, agar dapat turut membantu meringankan beban Keluarga Korban. Akan tetapi, menurut SK – Bibi Korban (Anak), Orang Tua Tersangka hanya menyanggupi untuk membantu sekitar Rp. 2.000.000., (Dua juta rupiah) Namun itu pun dengan cara dicicil, Rp. 200.000., (Dua ratus ribu) dibayar setiap bulan.

Memang orang tua tersangka bukan lah orang yang mampu secara ekonomi, hanya seorang Buruh Tukang/Kuli Bangunan yang saat ini pun tengah menganggur dirumah. Bagi Jn Ayah Korban, Ikhtiar ini tidak membuahkan hasil apa pun.

Bahkan, ayah korban sudah bolak balik mencari dana pinjaman untuk membayar biaya tersebut, namun apa mau dikata, terakhir ayah korban hanya mendapat uang Rp 50 ribu, uang ini pun digunakan untuk membeli pempers dewasa sebab korban belum bisa sekedar untuk ke kamar mandi.

Karena BPJS tidak bisa menanggung biaya tersebut, pihaknya akan mencoba jalur ke Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) di Jakarta agar nanti dibalas dengan (semacam) rekomendasi dari LPSK, sehingga pembiayaan dapat dibebankan kepada pihak BPJS dan atau Kemensos dan atau Kemenkes, sesuai Rekomendasi LPSK.

” Namun kata teman di BPJS, khususnya di Lubuklinggau, Musi Rawas dan Muratara belum pernah ada satu pun pihak yang pernah mencoba dan apalagi berujung keberhasilan, saya jawab saya yang pertama akan mencobanya untuk membantu (Anak) DJ,”pungkasnya.(*)

 

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=710494089737228&id=100023299291978

 

Tulisan ini juga telah dirilis Nun di akun facebook miliknya:

Why We Have To Help Child Patients Victims Of Violent Crimes ” – Mengapa Kita Harus Membantu Pasien Anak Korban Kekerasan Kriminalitas (?) __ Bahwa pada Sabtu menjelang petang, 6 Juni 2020, seorang Netizen bernama SK berdomisili di Kelurahan Karya Bakti melalui Fb dan dilanjutkan via WhatAps menyapa lirih, “Kak Nun (Nama kecil Nurus Sulhi) bantulah Keluarga kami (?)”. Sosok perempuan berinisial SK sebelumnya Saya kenal baik di Fb, karena seringkali meminta bantuan dalam pelbagai hal yang berkaitan dengan gerak langkah Perlindungan Konsumen., Berikut pula berkaitan erat pada kapasitas Saya sebagai Mediator plus Ketua Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) Kota Lubuklinggau. Maka seketika itu pula Saya menjawab, “Apa yang bisa Saya bantu ?.” Kemudian mengalir cerita, bahwa pada 26 Mei 2020 ada peristiwa tindak kriminalitas yang sadis – cukup menjadi sorotan media massa dan publik, dimana seorang Anak Perempuan, DJ 14 th Siswi SMP Negeri Kelas VIII di bagian Timur Kota Lubuklinggau, telah mengalami Tindak Kejahatan dengan Kekerasan di sebuah Kawasan Bukit Wisata terkemuka, dimana Ga – seorang Pria yang terhitung masih Keluarga dekatnya sendiri merampas secara paksa Handphone, Powerbank dan uang tunai, bahkan dituturkan kembali oleh Sang Ayah, jika saja Anaknya DJ tidak memiliki sedikit bekal pengetahuan Ilmu Bela Diri, bukan tidak mungkin sudah terjadi pemaksaan perbuatan cabul oleh Tersangka kepada Korban DJ. Namun, dalam pergulatan mempertahankan beberapa benda cukup berharga, (Anak) DJ mengalami 9 Tusukan Pisau milik Tersangka. Untung saja Korban selamat karena ada masyarakat setempat yang mengetahui dan segera memberikan pertolongan, dengan membawa Korban (Anak) DJ ke RS. Dokter Sobirin Lubuklinggau. Bahwa terhadap Tersangka, Reaksi cepat berhasil ditorehkan oleh Satuan Reskrim Polres Lubuklinggau yang hanya butuh waktu kurang dari 2 jam untuk meringkus Tersangka. Kembali kepada Korban (Anak) DJ, bahwa sayatan senjata tajam telah membuat luka mengangga dibagian sekitar bawah Perut sampai mendekati Jantung Korban, beruntung sekali dengan kesigapan Tim dokter Jaga UGD, selanjutnya dapat segera dilakukan Tindakan Operasi, maka selamatlah Korban dari maut yang dapat saja berujung kematian. Bahwa pula, dalam masa perawatan, pihak Keluarga telah menyertakan Kartu Indonesia Sehat (KIS) Atas nama (Anak) DJ kepada pihak RS. Dokter Sobirin.Lubuklinggau. __ Singkat cerita, setelah pemulihan kesehatan Pasca Operasi Besar, pada hari ke 11 (sebelas) dan atau Kamis 4 Juni 2020, Keluarga (Anak) DJ diberitahu bahwa sudah diperkenankan untuk meninggalkan RS. Sobirin Lubuklinggau guna selanjutnya dilakukan Rawat Jalan. Namun kabar sukacita proses kesembuhan dan telah diperkenankan pulang ke rumah ini, secara serta merta kemudian melebur bercampur menjadi duka cita, ketika pihak Keluarga diberikan lembar demi lembar biaya perawatan Medis dengan total sekitar Rp. 21.290.897.- (Dua puluh satu juta dua ratus sembilan puluh ribu delapan ratus sembilan puluh tujuh rupiah). Akibat dari keawaman pengetahuan pihak Keluarga sulit menerima penjelasan, bahkan menjadi tanda tanya yang membingungkan untuk sekedar mencerna, Mengapa Kartu Indonesia Sehat (KIS) atas nama anaknya sebagai Korban Tindak Kekerasan tidak dapat dilakukan Klaim untuk menutupi semua pembiayaan Pengobatan plus Perawatan Medis ?. Ditengah kebingungan ini, Keluarga Korban bahkan pernah mengutus salah satu Keluarga untuk menemui dan meminta bantuan Orang Tua Tersangka, agar dapat turut membantu meringankan beban Keluarga Korban. Akan tetapi, menurut SK – Bibi Korban (Anak), Orang Tua Tersangka hanya menyanggupi untuk membantu sekitar Rp. 2.000.000., (Dua juta rupiah) Namun itu pun dengan cara dicicil, Rp. 200.000., (Dua ratus ribu) dibayar setiap bulan. Bagi Keluarga Korban, sungguh kesanggupan itu bukan Solusi, tetapi apa mau dinyana, Faktanya memang Orang Tua Tersangka bukan lah orang yang mampu secara ekonomi, hanya seorang Buruh Tukang/Kuli Bangunan yang saat ini pun tengah menganggur dirumah. __ Bagi Jn – Ayah Korban, Ikhtiar ini tidak membuahkan hasil apa pun. Sehingga dihadapan Saya berujar keluh, “Bantulah Kami mengatasi masalah ini. Profesi Saya hanyalah Sopir Angkot Setoran Harian, beberapa bulan terakhir ini pula sedang tidak bekerja karena tidak cukup setoran akibat sepi penumpang ditengah Pandemi wabah Corona”. Saya kemudian menjawab, “InshaAllah dengan segenap upaya akan membantu mencari Solusi Terbaik pada masalah ini. Namun, Saya juga minta kepada Jn selaku Ayah DJ teruslah mencari pinjaman uang kepada Keluarga dekat, walaupun itu hanya sebesar Seratus dan atau Dua Ratus Ribu Rupiah saja, untuk diberikan kepada pihak RS. Dokter Sobirin Lubuklinggau, wujud upaya terakhir plus niat baik sang Ayah berjuang untuk memulangkan Anaknya DJ ke rumah. Kemudian Saya mencoba membuka komunikasi dengan pihak BPJS Kota Lubuklinggau melalui Sdr. Zaipan yang kerap menjadi Mitra setelah cukup akrab ber-acara di BPSK Kota Lubuklinggau. Bahwa entry point yang Saya mintakan penjelasan adalah prihal, “Mengapa Kartu Indonesia Sehat (KIS) tidak dapat dipergunakan untuk mengklaim semua biaya Pengobatan dan Perawatan (Anak) DJ (pada RS. Dokter Sobirin Lubuklinggau) yang mengalami luka berat akibat tindakan kekerasan/kriminalitas ?.” Dengan lugas Sahabat Zaipan menjawab, “Pak Nun, Saya turut prihatin pada musibah Adik DJ. Dengan permintaan ma’af memang benar Kami di BPJS sebagai Operator Program KIS memang tidak dapat mengakomodir Klaim Kepesertaan KIS atas nama DJ terkait sebagai Korban (Tindak) Kriminalitas. Sebab Korban Kriminalitas adalah salah satu dari Klausul yang tidak dipertanggungkan pada Program KIS”. Bahwa jujur, pada Titik ini cukup kecewa Saya mendengar uraian keterangan Klausul Tidak Tertanggung dimaksud, namun Saya kembali tidak lelah mengajukan tanya, “Bagaimana Kita mencari Solusi terbaik, karena Keluarga Korban adalah Benar sebagai Rumah Tangga Miskin (RTM) dan (Anak) DJ adalah benar sebagai Korban Tindak Kekerasan yang memang mengalami Luka Berat ?”. Sahabat karib ini berulang lagi menjawab, “Ada peluangnya Pak Nun, coba minta bantuan dengan cara melaporkan hal ini kepada Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) di Jakarta agar nanti dibalas dengan (semacam) rekomendasi dari LPSK, sehingga pembiayaan dapat dibebankan kepada pihak BPJS, dan atau Kemensos dan atau Kemenkes, sesuai Rekomendasi LPSK*, namun Saya harus jujur lanjut Sdr Zaipan, “Khususnya di Lubuklinggau, Musi Rawas dan Muratara belum pernah ada satu pun pihak yang pernah mencoba dan apalagi berujung keberhasilan”. Bahwa dengan jawaban terakhir ini, Saya menutup pembicaraan dengan kalimat, *Siap !, Saya yang pertama akan mencobanya untuk membantu (Anak) DJ, Terimakasih atas advis berharga ini”. __ Tidak berselang beberapa menit kemudian, di Handphone Saya masuk SMS dari Jn – Ayah Adik DJ yang menulis, “Kak Nun, Aku sudah kesana-kemari mencari pinjaman hutang uang, dapat hanya 50 ribu Rupiah, Tapi ma’af nian, uang 50 ribu ini pun harus Aku belikan Pampers (dewasa) karena Anak-ku DJ masih terbaring lemah di ranjang Rumah Sakit, belum bisa beranjak ke Toilet untuk sekedar Buang Air Kecil”. Sejatinya, pada bait SMS ini ada terselip pesan moral dari Jn selaku Ayah DJ, inilah upaya paling akhir sebagai Ayah untuk Anaknya, Tulus permintaan ma’af bukan pertanda Beliau menyerah kalah pada situasi yang sangat tidak adil ini. Saya yakin direlung hati terdalam Jn sebagaj Ayah dan Sa sebagai Ibu, akan senantiasa memberikan sesuatu yang terbaik bagi DJ Anak tercinta yang mengalami musibah. Ya, walaupun itu hanya sepenggal Do”a ; “Wahai Dzat yang paling mulia, bantu akhiri penderitaan Anak Kami, jangan pernah tinggalkan Kami dengan semua kesusahan ini”. __ Mencermati kebuntuan Solusi ini, Saya menyimak bahwa Usia (Anak) DJ adalah 14 Tahun, dirisalahkan pada Undang-undang Perlindungan Anak, dikatakan “Anak” ketika seseorang masih berusia sebelum 18 (Delapan belas) Tahun, maka DJ adalah masih tergolong sebagai “Anak” dan apalagi Anak yang tengah menjadi Korban Tindak Kekerasan/Kriminalitas. Maka kemudian Saya mencoba menghubungi Sdr. Redilansa selaku Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Kota Lubuklinggau, bertujuan sebagai ajakan untuk secara bersama-sama memberikan Pendampingan (Advokasi) kepada (Anak) DJ berikut Keluarganya mengatasi permasalahan pelunasan tagihan biaya Pengobatan dan Perawatan di Rumah Sakit Dokter Sobirin Lubuklinggau. Bahwa dari pembicaraan dengan Sahabat Redilansa menyampaikan keprihatinan mendalam dan memberikan atensi positif untuk membantu masalah (Anak) DJ, namun pada bagian akhir pembicaraan, Sahabat muda penuh energik ini, menyampaikan permohonan ma’af dengan penuh penyesalan tidak dapat membantu, disebabkan telah kehilangan otoritas/kewenangan menjalankan amanah memberikan Perlindungan atas pemenuhan Hak-hak Anak Indonesia, terhitung sejak bulan Mei 2020 telah berakhir masa tugas., berikut pula belum adanya kepastian pembentukan Timsel Pemilihan Komisioner KPAI masa pengabdian selanjutnya. Terimakasih Rekan Redilansa, semoga masih berkiprah di KPAI setelah Covid 19 Corona ini melandai. __ Selepas tenggelam Matahari diufuk timur, Saya menghubungi sesama Anggota BPSK Kota Lubuklinggau, Rekan Sehabudin Abdul Aziz (Majelis Unsur Konsumen), berikut pula Rekan Alpiansyah Hasan (Majelis Unsur Pelaku Usaha) untuk bersama-sama mengunjungi Keluarga Pasien (Anak) DJ di Ruangan Cempaka, sekaligus bermaksud bertemu dengan Managemen RS. Dokter Sobirin Lubuklinggau. Bahwa langkah Kami sempat terhenti dj depan Pintu Masuk, sebab kehadiran Kami sudah pada sekira pukul 20.00 WIB, sehingga Tertib Berkunjung harus melalui Lapor Piket Keamanan, setelah itu disampaikan Petunjuk lebih lanjut agar Kami menghubungi Petugas Humas yang Profilnya tertulis di Dinding depan Ruang Publik UGD, atas nama Muhammad Rizki pada No. HP 081366192219. Maka Kami sampaikan maksud dan tujuan berkunjung dan berkeinginan bertemu dengan pihak Managemen yang dapat mempertimbangkan serta memberikan Solusi atas permasalahan yang tengah dihadapi Pasien/Adik DJ. Bahwa hampir 30 menit Kami tertahan di Pintu Masuk, sambil menunggu Saya mencoba menghubungi Sahabat Edwar Yulizar berikut Sahabat Nizar (keduanya bertugas di Dinkes Kabupaten Musi Rawas yang membawahi RS. Dokter Sobirin Lubuklinggau), Rekan Nizar Handphone-nya tidak aktif dan Rekan Edwar Yulizar setelah panggilan Handphone Saya sempat direcall namun berselang beberapa menit kemudian Beliau menghubungi kembali. Maka Saya menyampaikan permohonan bantuan berikut advis, Sahabat Edwar memberikan Saran supaya Saya menghubungi dr. Evi Damayanti sebagai salah satu Petinggi – Kabid Kepegawaian di RS. Dokter Sobirin Lubuklinggau, sekalian pula diberikan No. Ponselnya. Bahwa Kami ber-empat, Nurus Sulhi, Edwar Yulizar, Nizar dan Evi Damayanti pernah sekitar 6 bulan bersama sebagai Peserta Diklat Pim III Angkatan 2018 di BKPSDM Kota Lubuklinggau. Sehingga tanpa harus canggung meminta bantuan sesuai dengan Tupoksi kedinasan masing-masing. __ Baru pada sekitar pukul 21.00 WIB Kami berikut Jn – Ayah Pasien Adik DJ dipersilahkan masuk menuju Ruang Cempaka, dipertemukan dengan Kepala Ruangan beserta Staf dengan dikawal 2 Petugas Keamanan yang turut hadir pada Pertemuan dimaksud. Ketika diberikan kesempatan berbicara Saya menyampaikan hal-hal sebagai berikut ; (a). Bahwa kehadiran Kami disini dalam kapasitas sebagai Anggota BPSK Kota Lubuklinggau, atas adanya Laporan Keluarga Konsumen Jasa Kesehatan Kepesertaan KIS, selanjutnya BPSK memberikan Advokasi/Pendampingan kepada Pasien Adik DJ guna mencari Opsie Terbaik mengatasi masalah ini., (b). Bahwa BPSK menyampaikan apresiasi positif terhadap perlakuan sangat menjunjung etika profesi kedokteran/tenaga medis, berikut penghormatan terhadap nilai-nilai dan martabat kemanusiaan, dengan segera dilakukannya segala upaya pelayanan/tindakan medis Operasi Besar kepada Pasien atas nama (Anak) DJ, walaupun belum jelas dengan cara apa Keluarga Pasien dapat membayar tagihan biaya pengobatan/perawatan yang ditempatkan pada bagian ujung waktu Pasien kembali sehat., (c) Bahwa terhadap adanya permasalahan klasik Kepesertaan KIS yang tidak dapat mengakomodir pembiayaan Pasien sebagai Korban perbuatan kekerasan/tindak kriminalitas, BPSK akan mencoba jalur permohonan Rekomendasi kepada LPSK agar pihak yang berkompeten dapat mengambil alih tanggung jawab pembiayaan agar tidak ditanggung oleh Keluarga Korban kekerasan/tindak kriminalitas., (d). Bahwa dimohonkan pertimbangan secara cermat-seksama untuk kepentingan bersama, agar Pasien atas nama (Anak) DJ dapat sesegera mungkin diperkenankan keluar dari RS. Dokter Sobirin Lubuklinggau, semata-mata berguna agar tidak semakin bertambahnya biaya tagihan Pelayanan Kamar dan Obat-obatan. Namun ketika keluar seyogianya masih berstatus Pasien Rawat Jalan, tetap bisa diberikan kesempatan Konsultasi Kesehatan dan menerima Obat-obatan yang dibutuhkan Pasien (Anak) DJ. (e) Bahwa selanjutnya Ketua BPSK mendedikasikan diri sebagai “Pihak Penjamin” keluarnya Pasien (Anak) DJ, atas adanya beban tagihan yang wajib dibayarkan kemudian akan diupayakan dengan cara-cara BPSK (tentunya dibenarkan oleh Hukum/Perundang-undangan) dalam masa waktu 10 (Sepuluh) hari kedepan dan atau jatuh tempo pada 16 Juni 2020., (f) Bahwa semua komitmen pada huruf (a), (b), (c), (d), dan (e) adalah pula bermuara kepada hal yang positif dan konstruktif, yaitu menghindarkan stigma negatif, “bahwa RS. Dokter Sobirin Lubuklinggau sejak Pasien telah diperbolehkan pulang, menurut Keluarga sejak tanggal 4 Juni 2020, dikarenakan ketiadaan biaya – menyebabkan Pasien (Anak) DJ tidak dapat pulang ke Rumah, jika asumsi ini membias, akan menjadi rumor yang kurang sedap didengar khalayak umum, yakni “RS. Dokter Sobirin Lubuklinggau terindikasi melakukan Penahanan/Penyanderaan terhadap Pasien (Anak) DJ”. Padahal hal itu sangat tidak benar, salah besar, rumor sesat dan sungguh sangat jahat. __ Bahwa setelah poin demi poin hal ini disampaikan, berikut pula hadirnya pihak Humas, disampaikan bahwa dimohonkan waktu untuk secara berjenjang melaporkan hal-hal dimaksud kepada Pimpinan. Bahwa sambil menunggu turunnya petunjuk dari Pimpinan, Saya berhasil menghubungi Rekan Zaipan – BPJS Lubuklinggau, mohon turut memberikan masukan kepada pihak RS. Dokter Sobirin agar dapat memberikan kepercayaan kepada Saya sebagai pihak Penjamin. Di kesempatan berikutnya Saya memberikan Pesan WhatAps kepada dokter Evi Damayanti bermaterikan permohonan dalam kapasitas sebagai Ketua BPSK agar dapat diberikan Hak untuk menjadi Penjamin Tertulis agar Pasien (Anak) DJ diperbolehkan keluar Rumah Sakit dan kembali ke Rumah. Bahkan untuk meyakinkan dokter Evi Damayanti, Saya meminta Jn – Ayah Pasien (Anak) Jn mendokumentasikan Photo Saya sedang berada disamping Ranjang Pasien (Anak) DJ yang tengah lemah lelap tertidur. Bahwa tidak berselang sekitar 2 – 3 menit Pesan plus Photo dikirim kepada dokter Evi Damayanti, Handphone Saya berdering dan dilayar terbaca nama dokter yang sangat baik itu. Terjadilah percakapan pembuka Reuni, bla, bla, bla. Pun juga bercerita masalah klasik ini sering terjadi, malah dokter Evi Damayanti sangat mensupport BPSK apabila bisa mengupayakan Rekomendasi LPSK untuk menghilangkan tanggung jawab pembiayaan Pasien-pasien Peserta KIS yang mengalami Kekerasan/Tindak Kriminalitas. Dan, bagian sakral yang ditunggu-tunggu tiba juga, bahwa atas Petunjuk Pimpinan telah diperkenankan kepada Saya menjadi Penjamin Pasien (Anak) DJ. Syukur Alhamdulillah, Terimakasih dokter Evi Damayanti, tak lupa Takzim-salam hormat kepada Direktur, dokter RM. Nawawi. __ Bahwa tindaklanjut berikutnya adalah, Petugas Humas membuat Surat Pernyataan Penjaminan Pasien, bertuliskan tangan dan telah Saya tanda tangani sebagai perwujudan daripada Gentleman Of Aggrement. Prosesnya sangat sederhana, bahkan sangat membantu Kami, Materai 6000 yang tidak bisa didapatkan saat itu dapat disusulkan esok hari, bersamaan dengan Pernyataan pada Form berbeda prihal total biaya yang wajib disepakati dan ditandatangani Jn – Ayah dari Pasien (Anak) DJ. Bahwa sekitar pukul 21.45 WIB Kami semua diperbolehkan meninggalkan RS. Sobirin Lubuklinggau, bahwa karena Pasien (Anak) belum dapat berdiri – apalagi berjalan, selanjutnya Kami mengantarkan Pasien (Anak) ke Rumah Kotrakan Orang tuanya di Amula Rahayu, Lubuklinggau Selatan I, Kota Lubuklinggau. __ Bahwa setibanya di Rumah, sedikit bercengkerama dengan Paman – Bibi Pasien (Anak) DJ, Saya meminta waktu berbicara di depan Keluarga, bahwa kewajiban Kita semua untuk tetap membayar Total Hutang sebesar Rp. 21.290.897,- (Dua puluh satu juta dua ratus sembilan puluh ribu delapan ratus sembilan puluh tujuh rupiah). Dimana Kita akan menempuh cara, Meminta Bantuan Rekomendasi LPSK, dan atau Meminta Bantuan Bidang Rehabilitasi Sosial Anak pada Dinas Sosial Kota Lubuklinggau., dan atau Menggalang Donasi Masyarakat., dan atau tetap menjadi Hutang Wajib Lunas Penjamin kepada pihak RS. Dokter Sobirin Lubuklinggau. Diakhir pembicaraan pihak Keluarga Pasien (Anak) DJ berkomitmen mempersiapkan semua kelengkapan administrasi beserta menyediakan ruang dan waktu menyelesaikan masalah ini secara baik, benar, transparan dan bertanggungjawab. __ Bahwa semua baris penuturan terbuka kepada Publik berdasarkan cara pandang Saya, Nurus Sulhi ini telah mendapatkan perkenan izin dari Orang tua Jn dan Sa, Pasien (Anak) DJ, berikut Bibi SK. __ Terimakasih kepada; – Bapak Kapolres, Kasat Reskrim & Tim Buser Polres Lubuklinggau. – Direktur, Bidang Humas, Kabid Kepegawaian, Kepala Ruang Cempaka beserta Perawat RS. Dokter Sobirin Lubuklinggau. – Lurah Karya Bakti. __ Ketua (Demisioner) Komisi Perlindungan Anak Indonesia – Kota Lubuklinggau. – Semua pihak, Individu-individu yang telah banyak membantu sejak peristiwa kekerasan/kriminalitas yang menimpa diri Pasien (Anak) DJ pada tanggal 26 Juni 2020 sampai dengan InshaAllah berakhirnya semua masalah pada perkara kekerasan/tindak kriminalitas dimana Anak menjadi Korban. __ – Salam hormat kepada Ketua Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) di Jakarta. – Walikota, Ketua DPRD, Kadinkes dan Kadinsos Pemerintah Kota Lubuklinggau. – Bupati, Ketua DPRD, Kadinkes dan Kadinsos Pemerintah Kabupaten Musi Rawas. #BPSK_Llg2020. #BPSK_BerkhidmadPadaFasilitasiPenyelesaianPerkaraSengketaKonsumenIndonesia.