Pelanggan Tuding Petugas PLN Langgar Aturan

Beligat.com, Lubuklinggau – Penerbitan Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL) terhadap konsumen atas nama Liyanto Tanjung/Jack, warga Jalan Poros RT 8 Gang Ruslan Atin Kelurahan Lubuk Tanjung dan Heriyanto Rizal, warga Kelurahan Kayu Ara Belakang Indomart bertentangan dengan Perdir No 88 Tahun 2016 tentang kelistrikan.

“Pihak PLN memaksakan konsumen, menetapkan konsumen P2TL. Padahal, P2TL itu mencuri listrik baik batas daya maupun pengukur energi. Sedangkan konsumen sudah dibuatkan Berita Acara (BA) ganti KWh oleh petugas. Mengingat KWh pengganti belum ada, petugas melakukan Loses (SBL). Artinya kami tidak maling api,” ungkap Reki Alpiko selaku Pemegang Kuasa dua konsumen tersebut kepada awak media, Senin (1/2).

Bahkan Reki menuding, permasalahan tersebut sebagai modus oknum atau sudah terorganisir. Untuk itu lanjut Reki, pihaknya dalam waktu dekat akan berhadapan dengan PT PLN (Persero) ULP Lubuklinggau di BPSK Kota Lubuklinggau. “Kami tunggu di BPSK. Kami juga siap unjuk Rasa secara besar-besaran di depan Kantor PLN ULP Lubuklinggau jika konsumen tak mendapat keadilan,” katanya.

Menanggapi Itu, Kepala PLN ULP Lubuk Linggau, Dairobi mengatakan pihaknya akan bersedia memberikan klarifikasi dengan pelanggan terkait permasalahan ini. Menurut dia, pelanggan tersebut salah persepsi dan sebetulnya yang dibayar pelanggan itu adalah Energi/kWH yang sudah dipakai oleh pelanggan.

“Semua ini sudah sesuai dengan aturan dan dalam Berita Acara itu tertera dengan jelas K2. Artinya bukan bentuk pelanggaran, melainkan kategori kelainan,” terang Dairobi.

Ia menambahkan, PLN akan tetap berupaya memberikan pelayanan terbaik untuk pelanggannya.

“Kita memastikan bahwa semuanya sudah sesuai prosedur,”katanya.

Untuk diketahui, berdasarkan Peraturan Direksi (Perdir) Nomor 88 Tahun 2016 Tentang Penertiban Pemakaian Tenaga Listrik (P2TL), ada 4 (empat) golongan Pelanggaran P2TL yakni :

Pertama, Golongan I, merupakan pelanggaran yang mempengaruhi batas daya tetapi tidak mempengaruhi pengukur energi.

Kedua, Golongan II, merupakan pelanggaran yang mempengaruhi pengukur energi tetapi tidak mempengaruhi batas daya.

Ketiga, Golongan III, merupakan pelanggaran yang mempengaruhi batas daya dan pengukur energi.

Keempat, Golongan IV, merupakan pelanggaran yang dilakukan oleh bukan pelanggan.*Akew/Dkj

Sumber Berita Selengkapnya…