MIDE : Petahana Musi Rawas Bisa Bertemu Lawan Berat

Merujuk Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) No. 5 Tahun 2020 Tentang Perubahan Ketiga Atas Peraturan Komisi Pemilihan Umum No. 15 Tahun 2019 Tentang Tahapan, Program, dan Jadwal Penyelenggaraan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Wali Kota dan Wakil Walikota Tahun 2020, tanggal 4-6 September 2020 proses pendaftaran calon kepala daerah dimulai.
Dalam konteks kontestasi elektoral, khususnya dalam pemetaan kandidat calon Kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah, Musi Institute for Democracy and Electoral (MIDE) telah melakukan pemetaan serta kajian terkait kondisi dan proyeksi elektoral di tujuh (7) Kabupaten yang menyelenggarakan Pilkada 2020. Hasilnya bahwa setiap daerah memiliki dinamika masing-masing, dan menurut hasil kajian kami, Kabupaten Musi Rawas paling menarik dinamikanya.

Posisi Petahana. Keputusan Partai Gerindra mengusung calon sendiri di Pilkada Musi Rawas, menurut MIDE, meningkatkan ekskalasi pilkada 2020 Musi Rawas. Belum bulatnya parpol pengusung calon kepala daerah mengeluarkan nama jagoannya satu bulan jelang pendaftaran di kantor KPU, juga jadi tolok ukur bahwa pilkada Musi Rawas akan jadi menarik. Apalagi petahana dengan tingkat keterkenalannya di masyarakat lebih besar, belum memutus calon pendamping. Hal ini bisa ditafsirkan sebagai sikap petahana yang wait and see melihat siapa penantangnya. Petahana tidak ingin calon pendamping justru tidak memiliki kontribusi besar dalam perolehan suara. Hal lumrah dalam sebuah kontestasi, petahana ingin memupus keragu-raguan dalam memilih pendamping, dengan melihat terlebih dahulu siapa penantang di pilkada 2020 ini.
Bupati Musi Rawas H Hendra Gunawan sebagai petahana sudah hampir pasti maju Kembali dengan setidaknya telah didukung 6 Partai dengan total 17 kursi DPRD Kabupaten (Demokrat 3, PAN 4, Nasdem 5, PKS 3, Hanura 1, PBB 1). Jika merujuk pada syarat dukungan pencalonan, Maka Petahana sudah memenuhi syarat minimal 20 % dukungan kursi DPRD (8 kursi) meskipun masih menyisakan spekulasi siapa pasangan yang akan mendampingi petahana.
Gambaran Kandidat Parpol. Dari 40 kursi DPRD Musi Rawas, masih ada 23 kursi lagi atau lebih dari setengah yang belum menentukan sikap dukungannya yaitu PDIP 8 Kursi, Golkar 7 Kursi, Gerindra 5 Kursi, dan PKB 3 Kursi. Jika syarat minimal dukungan untuk maju adalah 8 kursi, maka 4 Partai yang belum menentukan sikap ini berpengaruh terhadap potensi jumlah penantang petahana. PDIP yang memiliki 8 kursi dapat mengusung sendiri kandidatnya, Gerindra bergabung dengan Golkar dan/atau PKB, maka setidaknya akan terdapat 2 penantang Petahana. Jika 4 partai yang belum menentukan sikap malah sepakat untuk mengusung satu kandidat saja, maka akan menjadi penantang yang berat bagi petahana.
Potensi Penantang. Kami mencatat beberapa figur kuat dan potensial penantang petahana. Wakil Bupati Musi Rawas Hj Suwarti yang juga merupakan Ketua DPD Partai Gerindra Musi Rawas berpotensi akan maju melalui Partai Gerindra dengan syarat mampu berkoalisi dengan minimal 1 Partai baik itu PDIP, Golkar maupun PKB. Nama Ratna Mahmud Amin juga santer terdengar akan maju kembali lewat perahu PDIP. Meskipun gagal, pada Pilkada 2015 lalu, selisih suara Ratna Mahmud Amin dengan pemenang saat itu (Hendra Gunawan-Suwarti) hanya 2.040 suara. Ratna mahmud Amin saat itu juga unggul di lebih dari setengah kecamatan di Musi Rawas, yaitu menang di 8 kecamatan dari total 14 kecamatan. Bermodal hasil Pilkada yang Lalu, maka Ratna Mahmud Amin akan menjadi lawan berat bagi petahana. Nama Firdaus Cik Olah Ketua DPD II Golkar Musi Rawas dan menjadi Wakil Ketua DPRD Musi Rawas, juga berpotensi menjadi penantang kuat petahana. Ada juga nama H. Mulyana bendahara umum Nahdlatul Ulama Musi Rawas yang juga manajer Koperasi di Musi Rawas ini mulai beredar sebagai calon kandidat yang akan maju di Pilkada.
Membaca Hasil Survei. Ada tiga (3) Lembaga yang melakukan survei calon kepala daerah di Musi Rawas, Yaitu Nusantara Institute, Lembaga Kajian Publik Independen (LKPI), dan Rafflesia Research Parameter (RRP). Meskipun Petahana selalu unggul elektabilas dibandingkan dengan para calon kompetitor, setidaknya hasil dari RPP yang menyatakan elektabilatas H. Hendra Gunawan tertinggi dengan angka 36%, namun harus diingat bahwa angka tersebut hanya selisih 14% dengan Firdaus Cik Olah yang mendapatkan 22%, kemudian hasil survei Nusantara Institute H. Hendra Gunawan di angka 28% selisih 6% dengan Firdaus Cik Olah yang mendapatkan 22% artinya bahwa, meskipun di hasil survei LKPI petahana memperoleh hasil dan berjarak cukup jauh dengan para calon kompetitor yang lain, namun hasil survei RPP dan Nusantara Institute ini juga harus menjadi “early warning” yang serius karena angka 36% dan 28% tersebut sangat rendah bagi kandidat dengan posisi petahana.
Proyeksi Hingga Masa Pendaftaran. Dinamika di internal partai politik yang belum memastikan calon penantang petahana dapat dibaca sebagai pengejawantahan “Bumi Lan Serasan Sekantenan”. Tiga poros besar PDIP, Golkar, dan Gerindra tengah bekerja untuk mencapai musyawarah mufakat secara bersama-sama, bila harus berhadapan dengan petahana.
Bilamana partai-partai yang belum menentukan sikap ini akhirnya bersatu, membuat formulasi yang pas dan mengusung pasangan calon yang memiliki karakter kuat di masyarakat Musi Rawas, maka petahana harus bersiap untuk bekerja sangat keras di Pilkada 2020.

Salam,
Edi Wahyuri, S.IP., M.Si
Direktur Eksekutif MIDE