Hadapi Krisis Sosial, Dicari Pemimpin Kharismatik?

Penulis Opini, Fatkurohman, S Sos dalam momen acara DPD RI

VOS Media, PALEMBANG – Adu menjual kecap tampaknya menjadi tren dalam perpolitikan masa kini. Semua calon pemimpin dan pemimpin bagaimana menampilkan performa terbaiknya mendekati hajatan politik atau mempersiapkan hajatan politik. Mulai dari blusukan, tebar pesona hingga menampilkan baliho raksasa agar bisa dikenal masyarakat atau tetap terjaga performa politiknya. Tidak terkecuali di Kota Palembang, Sumatera Selatan bermunculan para tokoh yang melakukan personal branding seolah ingin menunjukkan bahwa mereka layak tampil dan berkompetisi dihajatan politik lokal 2024 akan datang.

Seperti diketahui, hajatan politik nasional dan lokal telah berlangsung silih berganti tetapi masih saja terdapat suara sumbang bahkan tidak sedikit. Mereka berharap ada perbaikan signifikan sebagai mana cita-cita reformasi. Kondisi ekonomi sulit, harga melangit, kesenjangan sosial melebar seolah-olah mereka tak tersentuh tangan-tangan para pemimpin. Tidak jauh-jauh melihat hal ini, di Kota Palembang saja anak jalanan dan pengemis semakin banyak di persimpangan dan jalanan seakan-akan tidak hadir tangan – tangan pemimpin terlebih dalam suana pandemi Covid-19 saat ini yang ikut memperparah keadaan.

Kemiskinan dan pengangguran juga menjadi sorotan Komisi V DPRD Sumatera Selatan dan menjadi pekerjaan rumah (PR) berat Pemprov Sumatra Selatan (Pemprov Sumsel) yang genap berusia ke-75. Hal ini tersebut disampaikan Wakil Ketua Komisi V DPRD Sumsel Mgs Syaiful Fadli, Selasa (18/5/2021). Komisi V DPRD Sumsel menilai, Jika mengacu ke RPJMD Sumsel dimana tahun 2021 atau tahun ketiga, masalah kesejahteraan rakyat (Kesra) dan tingkat kemiskinan harusnya single digit atau di bawah 10 persen. Berdasarkan data BPS, angka kemiskinan saat ini sekitar 12,98 persen dan ini menjadi pekerjaan rumah bagi Pemerintah Provinsi Sumsel. Terlebih Kota Palembang salah satu daerah yang menjadi salah satu penyumbang kemiskinan. Problem tersebut membuka peluang bagi pemimpin kharismatik untuk tampil kepermukaan yang mampu mengkosolidasikan kekuatan sumberdaya baik Sumber Daya Manusia (SDM) maupun potensi wilayah untuk mampu mengurangi kesenjangan sosial secara capat akibat krisis sosial.

Pandangan Weber, mempertegas tentang pemimpin kharismatik dimana orang memperoleh kekuasaan karena karakteristik-karakteristik pribadi yang patut menjadi contoh. Pemimpin kharismatis dipandang sebagai pribadi-pribadi yang memiliki berbagai kualitas yang bersifat superhuman atau kuasa-kuasa yang berasal dari “atas”, yang memisahkan mereka dari manusia biasa. Locus dari kekuasaan dalam sistem-sistem ini terletak pada individu yang memiliki kualitas pribadi yang luar biasa, jadi bukannya karena kelahiran berdarah biru (sistem kekuasaan tradisional) atau hukum (sistem kekuasaan legal-rasional). Sistem-sistem kekuasaan yang kharismatis, biasanya merupakan hasil dari suatu revolusi melawan sistem-sistem “tradisional” dan “legal-rasional”.

Pandangan ini juga dipertegas oleh P.M. Blau, dalam “Critical Remarks on Weber’s Theory of Authority” (American Political Science Review 57, no. 2 (1963) hal. 305-315), yang mengemukakan bahwa gerakan-gerakan kharismatis tidak akan menjadi kenyataan kecuali jika masyarakat berada dalam suatu situasi krisis. Dengan demikian pemimpin kharismatis bisa menjadi solusi ditengah situasi sosial ekonomi tidak menentu saat ini.

Lalu bisakah terwujud dalam sistem demokrasi saat ini. Menurut Gibson, ada beberapa ciri-ciri pemimpin karismatik diantaranya percaya diri, menarik, berani mengambil risiko, visioner dan berperilaku kerja baik.

Percaya Diri, Pemimpin yang karismatik menunjukkan bahwa mereka yakin akan mampu mencapai tujuan yang dicita-citakan. Dengan kepercayaan diri mereka, mereka mampu mempengaruhi orang lain untuk percaya bahwa mereka juga mampu mencapai tujuan dan harapan.

Komunikatif, Pemimpin yang karismatik menarik karena mereka cenderung ekspresif, bersemangat, dan optimis akan masa depan. Pemimpin yang karismatik dianggap menarik juga karena pada umumnya mereka memiliki kemampuan berbicara didepan umum (retorik dan Public Speaker) yang sangat baik. Jika mereka berbicara atau berpidato, maka orang-orang yang mendengarnya akan terbawa menjadi ikut bersemangat, percaya diri dan mau berkomitment untuk mencapai tujuan kelompok.

Kemudian, Berani Mengambil Risiko.
Dengan mengeksplorasi keadaan atau situasi yang belum jelas. Mereka meyakinkan diri dan orang lain untuk mau merubah keadaan yang “status quo” menjadi lebih baik. Selanjutnya Visioner artinya mereka memiliki kemampuan untuk berpikir jauh kedepan secara kreatif. Mampu mengimajinasikan dan menggambarkan masa depan yang lebih baik. Seorang pemimpin yang karismatik tentu akan lebih mudah mempengaruhi anggota atau bawahannya untuk mau bekerja sama mencapai tujuan.

Terakhir Berperilaku Kerja Baik. Artinya untuk memimpin seorang pemimpin perlu juga memiliki cara kerja yang strategis dan menguasai perilaku kerja yang operasional, sesuai dengan tuntutan yang konkrit. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa jika ingin menjadi pemimpin berhasil, maka seorang pemimpin juga perlu menunjukkan bahwa ia memang mampu bekerja secara nyata dan bukan hanya menarik dan pandai berbicara.

Adakah calon pemimpin kharismatik disekitar kita, ini yang menjadi pertanyaan dan perlu dijawab oleh semua komponen terutama partai politi. Gelaran demokrasi akan datang, kita harapkan partai politik sebagai pengusung calon pemimpin mampu menghadirkan calon pemimpin yang kharismatik untuk menjawab keresahan dan krisis sosial yang melanda bangsa ini terlebih dampak sosial akibat covid-19 semakin memperparah kesenjangan sosial terutama kemiskinan dan pengangguran.

Tampilnya pemimpin kharismatik yang memiliki kecerdasan dan visi jauh kedepan dalam menghadapi problem krisis sosial diharapkan bisa menjadi obat bagi negeri yang sedang sakit ini termasuk di Kota Palembang. Karena pemimpin tidak hanya cukup merakyat tapi lebih dari itu memiliki modal sosial, kecakapan, kualitas, gagasan serta berani mengambil resiko dalam menyikapi problem sosial.

Untuk itu, visi pemimpin masa depan dalam menggagas kepemimpinan berkeadilan sangat dinanti oleh rakyat yang sedang resah saat ini tidak terkecuali masyarakat Kota Palembang dan Sumatera Selatan. Di musim demokrasi yang semakin terbuka ini,  semua berpeluang untuk memantapkan diri menjadi calon pemimpin. Namun, sebagai rakyat yang sedang dilanda keresahan sosial kita harapkan untuk tetap sehat dan cerdas dalam menyeleksi calon pemimpinnya. Lihat baik-baik jejak rekamnya apakah melakukan politik aji mumpung atau tidak. Kita kadang lupa pemimpin itu masyarakat biasa yang juga bisa salah. Mumpung ada kuasa, dilakukan untuk mengumpulkan harta, mumpung ada kuasa kolega direkrut untuk mengamankan perilaku korupnya. Bukan mumpung ada kuasa untuk berbuat untuk kesejahteraan rakyatnya. Untuk itu, jika kita tidak mendapatkan calon pemimpin kharismatik, minimal menuju pemimpin kharismatik.(*)

*Penulis : Fatkurohman, S Sos ( Mahasiswa Pascasarjana Komunikasi Stisipol Candradimuka Palembang)

Klik : Sumber Berita
Author: kabarkite